Medco E&P Tanam 33 Ribu Mangrove di Sungsang IV, Pulihkan Pesisir dan Dorong Ekonomi Warga”

Foto;Program konservasi lingkungan melalui penanaman mangrove yang dijalankan PT Medco E&P Indonesia di Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

SUNGSANG, BANYUASIN — BANYUASIN — Program konservasi lingkungan melalui penanaman mangrove yang dijalankan PT Medco E&P Indonesia di Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan mulai menunjukkan dampak terhadap pemulihan kawasan pesisir sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Program yang dijalankan melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) sejak 2024 tersebut dilaksanakan bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungsang IV dengan melibatkan masyarakat secara langsung mulai dari pembibitan, penanaman hingga pemeliharaan mangrove.
Manager Field Community and Community Investment Development (CID) Medco E&P Indonesia, Hirmawan Eko Prabowo, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam rehabilitasi lingkungan, mitigasi perubahan iklim, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Program pengembangan masyarakat bidang lingkungan ini dilakukan di luar kewajiban PPKH. Sejak 2024 telah dilakukan penanaman sebanyak 33 ribu pohon mangrove di kawasan pesisir Desa Sungsang IV,” ujarnya.

Menurut Hirmawan, mangrove memiliki peran penting dalam menyerap karbon, menahan abrasi, serta menciptakan manfaat ekonomi melalui pengembangan ekowisata dan produk turunan berbasis mangrove.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat bersama LPHD menanam tiga jenis mangrove yakni Avicennia (api-api), Rhizophora apiculata (jangkang kecil), dan Rhizophora mucronata (jangkang besar).

Foto: Abdullah, ketua LDPHD penggerak utama dilapangan berbincang Bersama Romi Adi Candra kepala desa Sungsang IV Tentang Program Penghijauan Mangrove

Ketua LPHD Sungsang IV, Abdullah (48), mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan program konservasi tersebut.
“Kami ingin pesisir tetap hidup dan hasil laut tetap tersedia untuk generasi berikutnya. Karena itu masyarakat ikut menjaga sejak tahap pembibitan hingga perawatan,” katanya.
Abdullah mengakui proses penghijauan tidak berjalan mudah. Pasang surut air laut, serangan hama, serta sampah laut menjadi tantangan yang sering menyebabkan kerusakan tanaman muda.
Namun berbagai kendala tersebut diatasi melalui penanaman ulang dan perawatan rutin oleh kelompok masyarakat.
Hasilnya mulai terlihat. Kawasan pesisir yang sebelumnya mengalami tekanan abrasi kini mulai membaik dan sejumlah biota laut seperti kepiting bakau serta ikan kembali ditemukan di sekitar area mangrove.
Dampak ekonomi juga mulai dirasakan warga.
Selain memperoleh pendapatan dari kegiatan pembibitan dan penanaman, masyarakat mengembangkan produk olahan berbahan dasar mangrove seperti sirup pedada, dodol pedada, sabun alami, hingga produk pengusir nyamuk.

FOTO : produk olahan berbahan dasar mangrove seperti sirup pedada, dodol pedada, sabun alami, hingga produk pengusir nyamuk. Binaan dari Pt Medco EP.

Kartikwati, salah seorang anggota kelompok pengolahan hasil mangrove, mengatakan program tersebut membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga.
“Awalnya kami hanya ingin menjaga lingkungan, sekarang hasil mangrove juga bisa membantu menambah penghasilan,” ujarnya.
Kepala Desa Sungsang IV, Romi Adi Candra, menilai program konservasi tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Menurutnya, masyarakat kini mulai memahami bahwa menjaga laut dan mangrove berarti menjaga keberlangsungan ekonomi warga yang sebagian besar bergantung pada hasil perikanan.
“Mulai dari penyemaian, pembibitan hingga penanaman dilakukan langsung oleh masyarakat sehingga manfaat ekonominya juga dirasakan warga,” katanya.

Foto.: jurnalis sumsel ketika ikut kegiatan field trip Skk Migas – KKKS medco EP penanaman Mangrove disunsang IV.

Program konservasi mangrove di Sungsang IV juga mendapat perhatian lebih luas setelah kawasan tersebut menjadi lokasi kegiatan media field trip sektor hulu migas sebagai bagian dari promosi praktik pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Ke depan, program penghijauan ini diharapkan terus berkembang sebagai model kolaborasi antara sektor energi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir secara berkelanjutan.

Penulis : Ahmad Rayhan

Pos terkait

banner 468x60