Diduga Lamban Tangani Pasien, RSUD Raden Mattaher Kembali Disorot: Warga Pematang Gajah Meninggal Setelah Sebulan Menunggu CT Scan

FOTO: Pelayanan kesehatan di RSUD Raden Mattaher Jambi kembali menuai sorotan.(ilustrasi)

Jambi,  – Pelayanan kesehatan di RSUD Raden Mattaher Jambi kembali menuai sorotan. Rumah sakit rujukan terbesar di Provinsi Jambi itu diduga lamban dalam menangani pasien yang membutuhkan pemeriksaan CT Scan dengan zat kontras, hingga berujung pada meninggalnya sejumlah pasien.

Salah satu korban yang disebut keluarga adalah Zainal Arifin (63), warga RT 004 RW 001 Desa Pematang Gajah. Menurut keterangan keluarga, almarhum telah berobat ke RSUD Raden Mattaher sejak sekitar satu bulan lalu karena mengeluhkan penyakit yang dideritanya.

Namun, proses diagnosis tidak dapat dilanjutkan karena rumah sakit mengaku kehabisan zat kontras yang dibutuhkan untuk pemeriksaan CT Scan. Keluarga pasien mengaku diminta menunggu pengadaan bahan tersebut, sementara jika ingin melakukan CT Scan di luar rumah sakit harus mengeluarkan biaya sekitar Rp5 juta.

Kondisi tersebut membuat keluarga pasien berada dalam ketidakpastian. Di tengah harapan memperoleh pelayanan medis yang layak, mereka justru harus menunggu tanpa kepastian kapan tindakan medis dapat dilakukan.

Menindaklanjuti keluhan tersebut, awak media bersama tim LP3-NKRI mendatangi RSUD Raden Mattaher untuk meminta klarifikasi. Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Fitri, mengakui bahwa pasien yang menunggu ketersediaan zat kontras bukan hanya satu orang.

“Pasien yang menunggu zat tersebut sekitar 20 orang. Untuk masalah pengadaan, silakan konfirmasi ke pihak manajemen rumah sakit karena saya tidak memiliki kewenangan,” ujarnya.

Konfirmasi kemudian dilakukan kepada Kepala Bidang Pelayanan RSUD Raden Mattaher, dr. Andre. Ia menjelaskan bahwa zat kontras merupakan kebutuhan utama dalam pemeriksaan CT Scan untuk membantu dokter mengetahui kondisi penyakit pasien secara lebih jelas.

Namun saat ditanya mengenai kepastian waktu pengadaan, pihak rumah sakit belum dapat memberikan jawaban pasti. Bahkan pihak manajemen mengakui masih menghadapi berbagai persoalan internal.

Ironisnya, sebelum kebutuhan medis tersebut terpenuhi, muncul informasi bahwa sedikitnya tiga pasien yang sebelumnya menunggu pemeriksaan CT Scan dilaporkan meninggal dunia, termasuk Zainal Arifin, warga Pematang Gajah.

Fakta ini memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: mengapa kebutuhan medis yang sangat vital bagi proses diagnosis pasien bisa mengalami kekosongan dalam waktu yang cukup lama?

Lebih mengejutkan lagi, menurut informasi yang diperoleh awak media, tindakan CT Scan baru mulai dilakukan setelah muncul korban jiwa. Kondisi tersebut memicu kritik keras terhadap manajemen pelayanan kesehatan di rumah sakit milik pemerintah tersebut.

Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Jambi, Dinas Kesehatan, serta aparat pengawas pelayanan publik segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan di RSUD Raden Mattaher.

Pelayanan kesehatan bukan sekadar administrasi dan prosedur. Ketika pasien menunggu, yang dipertaruhkan bukan hanya waktu, tetapi juga nyawa. Jika dugaan kelalaian ini benar terjadi, maka harus ada pihak yang bertanggung jawab agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban akibat lambannya penanganan medis.(Tim)

 

Pos terkait

banner 468x60