PALEMBANG – Siswa dan tenaga pendidik SMPN 23 Palembang mendapat pembekalan menghadapi potensi kebakaran di lingkungan sekolah. Selain menerima edukasi keselamatan, peserta juga mengikuti praktik langsung penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Kegiatan tersebut digelar melalui program “Pertagas Goes to School” pada Jumat (28/8/2026). Pembekalan dirancang secara interaktif agar siswa dan guru tidak hanya memahami prosedur penanganan keadaan darurat secara teori, tetapi juga mampu melakukan tindakan awal saat terjadi kebakaran.
Program ini diinisiasi PT Pertamina Gas Operation Central Sumatera Area (Pertagas OCSA) sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi keselamatan kepada masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan.
Kegiatan dihadiri Kepala Distrik Palembang Pertagas OCSA Bagus Candra Kusuma bersama Tim Operasi, Tim Maintenance, serta Tim Health, Safety, Security and Environment (HSSE).
External Relation Pertagas Wilayah Sumatera Selatan Maulana Rizky W. mengatakan, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat perlu dibangun tidak hanya di lingkungan kerja, tetapi juga di tengah masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa edukasi mengenai keselamatan dan penanggulangan keadaan darurat tidak hanya berhenti di area operasi kami, tetapi juga menjangkau sektor pendidikan. Harapannya, seluruh elemen sekolah memiliki bekal yang cukup untuk merespons insiden secara cepat dan aman,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung dalam dua sesi. Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi pengenalan perusahaan dan edukasi keselamatan di dalam kelas.
Selanjutnya, peserta mengikuti praktik pemadaman api menggunakan APAR di area luar ruangan. Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai langkah awal yang tepat ketika menghadapi kebakaran.
Kepala SMPN 23 Palembang Nurzilla Febrianita, M.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, praktik secara langsung membantu warga sekolah memahami langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.
“Pelatihan praktik APAR dan edukasi keselamatan ini sangat aplikatif. Kami merasa lebih siap dan memahami prosedur penanganan awal jika terjadi keadaan darurat di sekolah, sehingga lingkungan belajar menjadi jauh lebih aman bagi siswa. Kami mengapresiasi inisiatif Pertagas karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, edukasi keselamatan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman individu, tetapi berkembang menjadi budaya kesiapsiagaan di lingkungan sekolah.
Kemampuan mengenali risiko, mengambil tindakan awal, dan merespons keadaan darurat secara tepat menjadi bekal penting bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Inisiatif tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pertagas OCSA dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya melalui pemberdayaan dan peningkatan keselamatan masyarakat.
Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penciptaan lingkungan belajar yang aman serta SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi keadaan darurat.(*)
Editor: rayhan









